Love in Valentine's Day (part 2)



Tiba-tiba saja ia berkata seperti itu… padahal selama ini aku tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang diriku yang sebenarnya… tapi dari mana ia bisa tahu…! Dan sekarang… aku harus mengatakan apa kepadanya…

“Kamu tidak usah berbohong lagi padaku… sejak awal aku melihatmu di mini market aku sudah curiga dengan kehadiranmu… sikap yang kamu tunjukkan sangat mirip dengan James, caramu berjalan… caramu berbicara… dan yang lebih membuatku semakin yakin adalah… kau bisa tahu pasta gigi yang ingin ku beli, padahal aku belum memberitahukannya padamu… dan bagaimana kau bisa tahu mengenai tanggal ulang tahun mamaku, padahal orang-orang yang diundang ke pesta itu belum tentu tahu kalau itu adalah pesta untuk merayakan ulang tahun mamaku…!”

Saat ini aku hanya bisa diam mendengar kata-katanya seperti orang bodoh yang tidak mampu bicara… tak sepatah kata pun bisa keluar dari mulutku… seakan-akan tubuhku membatu…

“Apa lagi yang mau kamu jelaskan…? Mamaku juga melihat sikap kamu sangat mirip dengan James, saat kamu sedang membantu menyiapkan pesta barbeque semua perilaku kamu sangat mirip dengan James… caramu memotong daging, caramu mencuci piring… semuanya mirip dengan James…! Apa lagi yang mau kamu jelaskan? Mengapa kamu terus membohongiku…? Mengapa?”

Saat ini kepalaku terasa sangat berat… ribuan beban pikiran menumpuk di dalam kepalaku… tak satu pun jalan keluar yang terpikir olehku… aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa… apakah aku harus menjelaskan kenyataan yang telah menimpaku. Jika hal itu kulakukan maka aku tidak akan bisa hidup sampai tanggal 14 Februari… artinya semua usahaku selama setahun terbuang sia-sia…

Marry menangis… air mata terus mengalir dari matanya… tangisannya semakin kencang… dan… dan aku tak tahan melihat kejadian ini…!

Tiba-tiba ia mendekatiku dan memelukku… ia terus menangis, “James… mengapa kamu harus berbohong selama setahun? Kenapa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya kepadaku? Selama ini kamu berjanji akan selalu jujur padaku…”

Aku tidak menjawab apa-apa… aku hanya bisa memeluknya, membiarkan ia menangis dalam pelukanku… aku rasa itu yang terbaik bagi kami… pada tanggal 13 nanti, biar James saja yang menjelaskan semuanya… saat ini aku hanyalah seorang Josh…

“James… kamu ingat ga tentang sesuatu…?” tiba-tiba tangisannya berhenti dan ia menatap mataku…

“Ingat… ingat apa…?”

“Tentang cangkang keong yang pernah kamu berikan padaku di pantai ini…?” ia berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya… ia mengeluarkan cangkang keong itu… cangkang keong indah yang kutemukan di pantai ini…

Ia berkata, “meskipun keong yang pernah tinggal di dalam cangkang ini telah mati, namun cangkang ini tetap indah… dan suatu saat nanti akan ada keong lain yang akan mengisi kembali cangkang ini sebagai rumahnya. Dan… dan aku harap cinta kita juga seperti itu… meskipun nanti kita mati… aku harap suatu saat nanti akan ada James dan Marry lain yang akan mengisi kembali cinta ini… cinta yang pernah kita miliki… aku harap cinta kita akan tetap abadi sampai selamanya…”

Indah… indah sekali kata-kata yang diucapkan olehnya, sebait melodi puisi kehidupan cinta yang sangat tulus… kata-katanya keluar begitu tulus… dari hati nuraninya yang suci… hati nurani seorang gadis cantik yang suci tanpa noda… tanpa dusta… namun, kini beribu perasaan bersalah menumpuk di hatiku… selama ini aku telah membohonginya, ledakan pesawat itu membawa hidupku ke dalam kehancuran… salah dan benar sangat sulit untuk bedakan… saat itu aku memaksa untuk kembali ke dunia karena aku ingin bertemu dengan Marry pada hari Valentine… tapi saat itu aku tidak menyadari kalau semuanya akan kacau seperti ini… setelah melewati tanggal 14 Februari aku harus meninggalkan Marry untuk kedua kalinya… aku harus menyakiti perasaannya… aku tahu ini beban terberat dalam hidupnya… juga dalam hidupku…

“Marry… saat ini aku tidak bisa memberitahukan siapa aku ini sebenarnya… tapi aku janji tepat pada saat sehari sebelum Valentine, James akan datang menemuimu dan… aku akan pergi ke suatu tempat untuk selamanya… nanti James akan menjelaskan semuanya kepadamu, tapi aku punya satu permohonan padamu…”

Aku sengaja berhenti bicara, aku ingin melihat reaksinya… apakah ia mau mengabulkan permohonanku atau tidak…

ia menjawab, “iya… katakan permohonanmu… aku ga tahu apakah aku akan mengabulkannya atau tidak…”

“Baiklah akan ku katakan… jika nanti kamu sudah bertemu dengan James, ia akan menceritakan semuanya kepadamu, tapi setelah itu… aku harap kamu siap menerima kenyataan ini. Apapun yang terjadi kamu harus merelakannya…”

Kini ia menangis dengan kencang… apakah aku mengatakan sesuatu yang membuatnya sedih…

“James… mengapa kamu tidak mengatakannya sekarang…? Memangnya apa yang terjadi denganmu?” Ia terus menangis… aku tak tahan mendengan tangisannya… rasanya langit di atas kepalaku akan terbelah dua… baru kali ini aku melihat ia menjadi seperti ini…! Saat ini ia dipenuhi dengan kesedihan yang sangat membuat ia menderita.

“Maafkan aku Marry, aku ga bisa cerita sekarang… ada satu alasan mengapa aku tidak bisa cerita sekarang… aku harap kamu bisa mengerti keadaanku saat ini.” Aku berusaha membuat ia mengerti… sebab jika aku mengatakannya saat ini maka hidupku hanya sampai di sini dan pada saat tanggal 14 Februari nanti aku – James, tidak akan muncul.

Kini ia tidak berkata apa-apa, namun ia tetap menangis… biarkanlah saat ini ia menangis sepuas-puasnya. Aku akan menjaganya sampai akhir hidupku…

------ * * * ------

Akhirnya tanggal 13 Februari telah hadir di hadapanku… saat ini aku kembali seperti sediakala, aku kembali menjadi James… dan… aku dapat menemui Marry dengan diriku yang sebenarnya, tapi… entah mengapa sekarang dalam hatiku muncul keragu-raguan untuk menemuinya…  jika saat ini aku menemuinya maka pada akhirnya aku akan membuat ia menangis lagi. Namun jika aku tidak menemuinya… artinya usahaku selama ini sia-sia saja.

Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide dalam kepalaku… tanpa pikir panjang aku segera berteriak memanggil… “Raja Akhirat…! Aku ingin berbicara sesuatu denganmu…!”

Dalam sekejap muncul dua orang pengawal berjubah putih di belakangku… ia memegangi lenganku dan… dan membawaku ke… kembali ke akhirat… kini dalam sekejap aku telah berada di hadapan raja Akhirat…

Raja Akhirat bertanya padaku, “ada apa kamu memanggilku? Apakah kamu berubah pikiran untuk menemuinya…?”

“Tidak, aku… aku ingin minta sesuatu… aku… aku minta di biarkan hidup di dunia ini selamanya… Tolonglah aku… aku akan merahasiakan semua kejadian ini pada siapa pun.”

“Tidak bisa! Kamu pikir aku bisa begitu saja membiarkan orang untuk hidup dan mati semaunya. Kalau aku membiarkanmu hidup lagi maka semua jalur kehidupan di dunia ini akan berubah. Bagaimana nanti kamu menghadapi orang tuamu saat mereka bertanya mengenai kuliahmu di luar negeri… berarti kau telah membuang waktu dua tahun dengan percuma. Bagaimana jika suatu saat nanti ledakan pesawat itu diketahui oleh masyarakat? Oleh karena itu aku tidak akan membiarkan kamu hidup lagi … namun sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu…”

“Iya cepat tanyakan apa itu…?”

“Sebenarnya kamu ingin hidup lagi karena kamu ingin hidup lebih lama atau karena kamu ingin bersama dengan pacarmu?”

“Aku… aku sebenarnya hanya ingin hidup bersama Marry…”

“Jika itu alasannya… aku bisa memberikan kamu satu pilihan lain. Namun… pacarmu harus mengorbankan hidupnya untukmu…”

“Tidak! Itu pilihan yang sangat bodoh… lebih baik aku mati saja daripada mengorbankan kehidupan dia!” bagaimana mungkin aku rela mengorbankan nyawa orang yang kucintai padahal selama ini aku selalu menjaganya… lebih baik aku saja yang menderita daripada harus mengorbankan dia.

“Ya sudah, itu semua terserah kamu. Aku tidak mengatakan akan mengorbankan nyawanya, dia hanya harus mengorbankan hidupnya. Karena nantinya ia akan menjadi seperti kamu saat ini… kalian akan hidup sebagai orang lain di dunia, tidak ada seorang pun yang mengenali kalian berdua… hanya kalian berdua yang bisa mengenali satu sama lain.”

“Jadi maksudmu… Marry akan menjadi seperti aku… dan orang tuanya akan kehilangan dia untuk selamanya? Dan hanya kami berdua yang bisa mengenali diri kami satu sama lain?”

“Iya! Tepat sekali! Apakah kamu mau?” dia menjawab dengan tegas.

“Aku… aku tidak mau! Untuk apa aku mengorbankan hidupnya hanya demi kepentinganku. Lebih baik aku saja yang menanggung semua ini.”

Sebenarnya… sebenarnya aku mau mengikuti sarannya. Menurutku itu satu-satunya jalan keluar terbaik yang ada. Marry tidak perlu ikut mengalami kematian sepertiku, ia hanya berubah menjadi orang dengan jati diri yang baru. Namun, aku rasa itu akan menjadi beban berat untuknya, ia akan kehilangan orang tuanya… sahabatnya… dan segalanya. Lebih baik aku saja yang lenyap… ia hanya akan kehilangan satu orang… aku!

“Ya sudah, aku pergi dulu. Sekarang aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Selamat tinggal!” setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. Dua pria berjubah putih mengantarkan aku kembali ke tempat semula.

Kini aku kembali lagi ke sini… sendiri… seorang diri dengan ribuan beban di kepalaku… bagaimana aku mengatasi masalah ini? Sekarang aku harus pergi menemui Marry… gadis yang kucintai. Demi dia aku telah kembali dari kematian, aku kembali ke dunia ini hanya untuk menunggu datangnya hari ini, SATU HARI SEBELUM VALENTINE.

------ * * * ------

Apa boleh buat? Sekarang aku memberanikan diri untuk menemuinya. Mungkin aku memang harus berpisah dengannya. Mungkin aku tidak berjodoh dengannya di kehidupan ini…

Langkah kakiku terasa berat sekali. Saat ini ada dua pilihan untukku, menemuinya dan meninggalkannya, atau tidak menemuinya dan pergi tanpa kabar. Anggap saja James memang sudah mati dalam kecelakaan pesawat.

Namun kurasa lebih baik aku menemuinya, kemudian menjelaskan semua peristiwa ajaib yang kualami. Setelah itu aku memberikan nasehat padanya agar dapat menjalani hidupnya tanpa diriku, karena sebenarnya aku telah…

Kini aku berada di depan rumah Marry, tanganku perlahan-lahan bergerak menuju ke bel rumahnya. Aku akan memanggilnya keluar dan mengajaknya pergi ke pantai untuk menceritakan semuanya… semua kenyataan ini.

Jariku telah memencet tombol bel itu… aku menunggu ia keluar…. Aku terus memikirkan dari mana aku harus mulai menjelaskan semuanya. Aku sudah menunggu satu menit… tak ada seorang pun keluar dari rumahnya… kemudian aku memencet bel itu lagi… namun… tak ada seorang pun keluar. Apakah tidak ada seorang pun di rumahnya?

Tak mungkin mereka sekeluarga pergi keluar, hari ini aku sudah berjanji akan kembali dari kuliahku di luar negeri… tapi mengapa tak seorang pun yang keluar?

“Josh…” sebuah suara yang kukenal memanggil dari belakang.

Aku membalikkan tubuhku untuk melihat pemilik suara itu… Marry. Ia sudah ada di belakangku… berarti sejak tadi ia memperhatikan aku dari belakang.

“hai Josh… apa kabar? Mengapa kau ke rumahku?” ia bertanya padaku.

“Mengapa kau bertanya seperti itu? Hari ini tanggal 13 Februari… tepat dua tahun sejak aku pergi kuliah di luar negeri. Sekarang aku telah kembali, tapi kenapa kau bertanya seperti itu?” aku sangat bingung dengannya… mengapa ia mempertanyakan kedatanganku…

Ia menjawab… “kau merasa sebagai Josh atau James? Tadi aku memanggilmu sebagai Josh… ternyata selama ini kau membohongiku… kau menipuku…! Kenapa!? Hah…!?” ia hampir menangis… matanya memerah…!

“Aku tahu… sekarang ikut aku ke pantai… atau kita tidak akan pernah bertemu lagi…” kemudian aku segera memanggil taksi, menuju ke pantai… pantai tempat terakhir kami bertemu, sebelum aku mengalami kematian…

Dalam 20 menit kami tiba di sana tanpa berbicara sepatah kata pun di dalam taksi, di pantai itu… aku mengajaknya menuju ke tepi. Aku duduk di sana… sama seperti dua tahun yang lalu. Ia mengikutiku… kemudian duduk di sampingku… semuanya seperti kejadian dua tahun yang lalu…

Aku melihat matanya… tatapan yang penuh dengan kesedihan dan kebingungan. Tanganku meraih tangannya, aku menggenggam tangannya dengan erat.

“Marry… aku mencintaimu…” ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku…

Ia diam saja… sepertinya ia masih penuh dengan kebingungan. Untuk membuatnya senang, aku berdiri… kemudian berteriak sekencang-kencangnya… “Marry…! Aku cinta padamu… aku tidak akan melupakanmu…! Aku berjanji akan membuat kamu bahagia…!”

Raut wajahnya mulai terlihat senang… kemudian ia ikut berdiri dan berteriak… “James…! Aku juga sangat mencintaimu… aku sangat menyayangimu…! Aku tak akan pernah melupakanmu…”

Lalu ia menatapku… kemudian ia memelukku dengan erat… rasanya aku senang sekali!

Kemudian Marry berkata, “ingat ya sayang… kamu harus kuliah yang benar. Dua tahun bukan waktu yang lama. Setelah itu kamu karus kembali dengan selamat. Kamu boleh melupakan aku… yang penting kamu harus kembali dengan selamat.”

“Apa?” aku tiba-tiba saja aku tersentak… aku menjadi bingung dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Apa maksudnya… kini dua tahun sudah berlalu. Kenapa dia mengulang kata-kata yang waktu itu diucapkan dua tahun yang lalu…

Kini dia bingung menatap padaku, ia berkata, “Kenapa kamu terkejut say? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? Aku kan cuma bilang supaya kamu kuliah yang benar… dan nanti kamu harus pulang dengan selamat.”

Kini aku bertambah bingung… ada apa ini? Kenapa seakan-akan aku kembali ke masa lalu. Sepertinya aku kembali ke saat-saat sebelum aku pergi ke luar negeri. Semuanya sama seperti waktu itu… permandangannya pun sama, matahari yang sedang tenggelam, langit yang memerah, angin yang berhembus sejuk…

Kemudian aku berkata, “Marry, sekarang tanggal berapa?”

“Kamu kenapa sayang…? Kenapa seperti orang bingung, sekarang kan tanggal 16 Februari dan besok kamu harus berangkat… memangnya ada apa sih? Apa yang sedang kamu pikirkan sih…?”

“Aku… aku tidak berpikir apa-apa… aku cuma mau… aku cuma ingin lebih lama bersama denganmu.” Ia berkata sekarang tanggal 16 Februari… berarti aku benar-benar kembali ke masa lalu. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah raja akhirat telah membantuku…

“Say…” Marry memanggilku dengan lembut, “kenapa kamu melamun… apa yang sedang kamu pikirkan…?” Ia memelukku dengan mesra…

“Tidak ada apa-apa Marry sayang… aku sedang memikirkan sesuatu… rasanya aku mau…”

Saat ini aku memikirkan sesuatu… seandainya aku benar-benar kembali ke masa lalu… berarti aku bisa menghindari kematian yang nanti akan menimpaku… dan aku tidak perlu berpisah dengan Marry.

“Kamu mau apa James…?” ia bertanya padaku…

“Aku… aku sedang berpikir… untuk… untuk membatalkan kepergianku ke luar negeri…!”

------ * * * ------

Meskipun aku tidak tahu kenapa aku bisa kembali ke masa lalu tapi aku sangat senang dengan kejadian aneh ini… aku sangat gembira… aku bisa menghindari peristiwa buruk yang akan menimpaku… aku bisa mengulangi hidupku menjadi lebih baik…

Setelah itu aku segera pulang menemui orang tuaku… mereka terlihat seperti biasa. Seakan-akan selama ini tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku memberitahukan bahwa aku ingin membatalkan kuliahku. Aku cukup bekerja dengan gelar S1. Awalnya mereka sangat tidak setuju dan tidak menerima keputusanku, namun setelah ku keluarkan seribu alasan, akhirnya mereka menyerah dan membiarkan aku tidak jadi kuliah di luar negeri.

Rasanya hari Valentine dua tahun yang lalu baru saja kulalui kemarin, kini aku mendapatkan kembali Valentineku bersama orang yang kucintai… Marry.

Kini enam tahun telah berlalu… aku kini telah menduduki posisi direktur utama di sebuah perusahaan perfilman. Aku sudah menikah dengan Marry dan memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Sejak saat itu aku langsung meniti karir dengan sungguh-sungguh. Tanpa bantuan kedua orang tuaku, aku bekerja keras selama tiga tahun. Dan pada tahun keempat aku menikahi Marry dan membangun sebuah keluarga. Kami sangat bahagia, terutama aku… aku tidak perlu kehilangan dia untuk kedua kalinya. Seandainya saja ia tahu kalau aku telah selamat dari kematian… berkat dia, karena aku mencintainya… aku berjuang untuk kembali ke dunia ini demi dia. Dan pada akhirnya… aku mendapatkan kehidupanku kembali…

Semua peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi padaku kini menjadi rahasia abadi dan tersimpan dengan baik dalam ingatanku… tak seorang pun tahu tentang hal itu, bahkan kepada Marry. Biarlah semua kejadian itu menjadi kenangan bagiku, menjadi pemacu hidupku, mengajarkan aku bahwa hidup ini sangat singkat… tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya… sebab hidup ini hanya sekejab mata, jangan menyia-nyiakan setiap detik yang terus berlalu.



Words of Love

Lupakan masa lalumu… Lupakan masa lalunya…
Tidak perlu mengungkap masa lalu… Saat ini adalah saat ini…
Cintailah dia dengan setulus hatimu…
Cintailah dia untuk saat ini…

Manusia tidak pernah kalah karena mencintai seseorang…
Namun… manusia selalu kalah karena tidak pernah berterus terang.

Ketika mencintai seseorang,
Kita selalu berusaha untuk membuat ia bahagia.
Namun… kadang kita sulit membedakan…
Apakah itu demi kebahagiaan dia ataukah
Demi kebahagiaan kita sendiri…

Bukan hal yang mudah untuk mengatakan cinta,
Bukan hal yang mudah untuk mengatakan benci,
Bukan hal yang mudah untuk mengawali sesuatu,
Bukan hal yang mudah untuk mengakhiri segalanya,
Semua memerlukan waktu,
Seseorang yang kini telah berada di sisimu…
Seseorang yang kini telah berjanji untuk bersamamu…
Seseorang yang kini telah menemanimu…
Adalah orang yang menyukaimu, mencintaimu, dan menyayangimu…
Cintai dan sayangilah dia…
Karena hanya ada seorang seperti dia di sini…
Di dunia ini…
Di dalam hidupmu…

Cintailah dia, sayangilah dia,
Hargailah dia, jagalah dia,
Maafkanlah dia, berkorbanlah untuknya,
Maka kau akan mendapatkan cinta dan segalanya…

Oleh : Jimmy Lobianto

0 Comments:

 

blogger templates 3 columns | Design by Jimmy Lobianto