Antara Cinta dan Kenyataan


Apakah menurut kalian hidup ini cukup adil? Apakah menurut kalian sepasang kekasih yang saling mencintai bisa dengan mudah meraih apa yang mereka inginkan? Kadangkala hidup ini bersikap sangat tidak adil terhadap orang-orang yang seharusnya tidak menerima kenyataan yang kejam. Hidup ini penuh dengan lika-liku yang tidak bisa di duga, dalam sekejap semua hal yang berada diatas telapak tangan manusia dapat terbalik dalam satu detik dan semua itu berada di luar dugaan.

Kisah ini menceritakan tentang kehidupan sepasang manusia yang saling mencintai, mereka menerima kenyataan terpahit dalam hidup mereka yang mengharuskan hubungan cinta mereka berakhir dalam sekejap mata.


------***------

Saat itu Takeshi baru berumur lima belas tahun, ketika itu keluarga mereka memutuskan untuk pindah ke Korea karena saat itu ayah Takeshi akan membuka cabang perusahaan keluarga mereka di sana. Oleh karena itu, untuk memudahkan mengurusi perusahaan tersebut mereka sekeluarga pindah Korea. Sedangkan perusahaan yang ada di Jepang akan diserahkan kepada paman Takeshi.

Dalam tiga minggu mereka sudah mendapatkan sebuah tempat tinggal yang cukup baik. mereka sekarang tinggal di sebuah daerah perumahan yang cukup mewah. Ini merupakan titik awal dari sebuah jalinan cinta antara sepasang manusia. Entah apakah hal ini baik atau tidak, sebab siapa saja yang bisa mengetahui masa depan mereka tentu tidak ingin mengalami hal ini. Namun takdir kehidupan manusia memang sudah digariskan sejak awal, siapa pun tidak mungkin dapat menghindar dari kenyataan hidup ini.

Tujuh tahun berlalu dengan cepat, saat ini Takeshi telah lulus dari kuliah dengan nilai yang memuaskan. Namun karena sikapnya yang mandiri dan keras kepala, maka dia memutuskan untuk hidup dengan usahanya sendiri. Ia ingin menyewa sebuah apartemen dengan uang tabungannya dan hidup seorang diri. Orang tuanya tidak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa mendoakan agar anaknya tidak hidup menderita. Setelah itu Takeshi setiap hari mulai sibuk dengan lembaran-lembaran Koran. Setiap pagi ia selalu mencari lowongan pekerjaan untuk mengisi kehidupannya. Sebenarnya ayahnya dapat membantunya mencarikan pekerjaan yang baik, tetapi ia menolak untuk dibantu, ia ingin mendapatkan pekerjaan dengan usahanya sendiri.

Beberapa hari kemudian ia diterima bekerja di sebuah perusahaan terkenal sebagai seorang supir pribadi perusahaan. Ia dipercaya untuk menjemput tamu yang datang dari luar negeri, bahasa inggrisnya yang cukup baik memungkinkan dia untuk berkomunikasi dengan tamu asing. Untuk tugas pertamanya, ia diperintahkan untuk menjemput seorang direktur dari perusahaan Triangle di bandara. Tugas ini dijalankan dengan sangat sungguh-sungguh supaya atasannya tidak kecewa. Atasannya memberitahu Takeshi bahwa direktur tersebut adalah seorang wanita yang bernama nona Mery, ia adalah orang penting yang harus diperlakukan dengan baik karena posisinya menentukan keuangan perusahaan tempat Takeshi bekerja.

Setibanya di bandara, ia segera mengeluarkan papan nama yang bertuliskan “Nona Mery dari perusahaan Triangle”. Beberapa menit kemudian ia dihampiri oleh seorang wanita cantik yang sepertinya merupakan keturunan Inggris-Jepang. Dengan percaya diri Takeshi berkata, “apakah anda Nona Mery?”

Wanita itu tersenyum dan berkata “ya!”. Dengan professional Takeshi segera membawakan tas bawaan Nona Mery dan mengantarkannya menuju ke mobil. Takeshi segera mengantarnya menuju ke perusahaan seperti yang diperintahkan oleh atasannya. Ia mengemudi dengan sangat hati-hati agar penumpangnya tidak merasa kecewa.

Di tengah perjalanan, Takeshi menyadari ternyata Nona Mery bukanlah orang yang sombong karena seorang eksekutif muda biasanya bersikap angkuh. Nona Mery bukanlah orang seperti itu, selama perjalanan Nona Mery bertanya banyak hal kepada Takeshi.

“Siapa namamu?”

“Nama saya Takeshi, nona”, jawab Takeshi dengan sopan.

“Sudah berapa lama kamu kerja di perusahaan ini?”

“Ini hari pertama saya bekerja disini dan ini pertama kalinya saya bekerja.”

“Biasanya orang yang baru pertama kali bekerja pasti akan melakukan tugas pertamanya dengan baik, apakah kamu juga seperti itu?”

Takeshi menjawab dengan malu, “Ia Nona, tentu saja begitu.”

Sambil memegangi perutnya, Nona Mery berkata, “Sekarang saya sudah lapar, bagaimana kalau kita cari tempat makan yang baik dan kita makan siang dulu. Saya yang akan mentraktir kamu untuk merayakan hari pertama kalinya kamu bekerja”

Takeshi tidak menyangka Nona itu akan mengajaknya makan siang. Namun karena profesionalisme, maka ia menolak ajakannya dengan halus, “Maaf Nona, saya diperintahkan untuk mengantarkan Nona langsung ke perusahaan kami.”

Nona Mery tidak menjawab apa-apa, ia segera mengeluarkan handphonenya dan terlihat akan menghubungi seseorang. Beberapa detik kemudian ia berkata, “Tuan Sam, sekarang saya sedang lapar, bolehkah saya mengajak supir perusahaan anda untuk makan siang sejenak?”, “Baik, terima kasih!”

Ia kemudian memasukkan kembali handphonenya kembali dan berkata, “Aku sudah menghubungi atasanmu, ia mengijinkan kita untuk makan siang dulu. Bisakah sekarang kamu carikan sebuah restoran yang terkenal di sini?”

“Baik Nona, sekarang kita segera menuju ke sana!” jawab Takeshi dengan tegas.

Setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di kawasan elite. Mereka berdua segera memasuki tempat tersebut dan duduk di tempat VIP. Kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membawa kertas untuk mencatat pesanan mereka. Takeshi terlihat diam melihat daftar harga makanannya, ia tidak membawa uang banyak saat itu. Meskipun orang tuanya cukup kaya, namun ia tidak suka hidup bergantung dengan mereka.

“Mau pesan apa tuan dan nona?”, tanya pelayan itu kepada mereka berdua.

“Beff chili spagheti, chicken cheese steak, chocolate coconut cake, dan lemon tea”, kata nona mery. “Takeshi mau pesan apa?”

“Saya tidak begitu lapar, saya pesan cappucino saja.”

“Jangan begitu, kamu harus menemani saya makan juga. Saya tidak suka makan sendiri! Biar saya yang pesan buat kamu.”

Takeshi segera mencegah nona Mery, “Jangan nona! Saya benar-benar tidak lapar! Saya masih kenyang.”

Nona Mery tidak memperdulikan ucapan Takeshi, ia sibuk membaca-baca buku menu untuk mencari menu yang enak. “Beff barbeque mushroom steak, Japanese fried noddle, dan vanilla pudding.”

“Baik, hidangan akan datang duapuluh menit lagi. Silakan ditunggu!” kata pelayan tersebut. kemudian ia pergi menuju ke dapur.

“Nona! Kenapa anda pesan begitu banyak makanan?”, Takeshi berkata dengan nada sedikit marah.

“Tenang saja, kamu cukup membantu aku menghabiskan makanannya, biar aku yang bayar semuanya. Aku kan sudah berjanji akan mentraktir kamu di hari pertama kali kamu bekerja.”

“Bukan itu masalahnya! Kalau makanannya tidak habis bagaimana? Kita kan tidak boleh menyia-nyiakan makanan!”

Nona Mery berkata sambil tersenyum, “lngat posisimu saat ini, aku adalah tamu perusahaan. Jadi kamu harus melayaniku dengan baik.”

Takeshi terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin ia tidak ingin mengecewakan atasannya karena sikapnya terhadap tamu perusahaan kurang memuaskan.

Tak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan. Semuanya segera dihidangkan di atas meja makan mereka.

“Mari kita makan!” kata nona Mery sambil mengambil minumannya. Tanpa berkata apa pun Takeshi mengambil pisau dan garpunya, kemudian menikmati steak yang ada di depannya.

Sambil makan nona Mery berkata, “maafkan kata-kataku tadi. Aku hanya ingin kamu makan, kalau pesan minum saja kan tidak akan menghilangkan rasa laparmu, jadi aku pesankan makanan untukmu.”

“Terima kasih banyak untuk makanan ini. Nanti kalau aku sudah menerima gaji, aku yang akan mentraktirmu.”. setelah menjawab, ia kembali diam dan menikmati makanannya tanpa mengacuhkan keadaan sekelilingnya.

Satu jam kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dalam satu jam mereka sampai di perusahaan tersebut.

“Terima kasih, nanti kita akan bertemu lain waktu.” kata nona Mery setelah keluar dari mobil.

“Sama-sama!” jawab Takeshi dengan tersenyum, kemudian ia segera pergi memarkirkan mobil tersebut ke tempat parkir. Setelah itu ia menuju ke kantor atasannya untuk memberitahukan bahwa tamunya sudah sampai dengan selamat.

------***------

Dua minggu telah berlalu, Takeshi masih bekerja di perusahaan tersebut. ia mendapat kepercayaan penuh oleh atasannya karena hasil kerjanya yang baik.

Suatu ketika pada hari libur, Takeshi pergi ke pusat pertokoan untuk membeli kebutuhan sehari-harinya. Setelah selesai membeli barang-barang keperluannya, ia kemudian menuju ke terminal bus untuk pulang. Ketika menyebrangi jalan, tiba-tiba datang sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke garis penyeberangan. Takeshi yang saat itu sedang membawa banyak barang terhempas ditabrak oleh mobil sedan tersebut. Takeshi jatuh terlentang di tengah jalan dengan darah bercucuran keluar dari kepala dan kakinya.

Pengemudi mobil sedan itu keluar dari mobilnya dan segera menuju ke korban yang ditabraknya olehnya. Ketika ia melihat Takeshi dalam keadaan kritis, ia menjerit histeris dengan sekuat tenaga. “Tolong!!! Cepat Bantu aku!!! Panggil ambulance!” Ia berteriak memanggil orang-orang di sekelilingnya. “hei…! Bantu aku naikkan orang ini ke dalam mobilku! CEPAT!!!”

Beberapa orang di sana segera membantu menaikkan Takeshi ke dalam mobil tersebut. Saat itu Takeshi dalam keadaan setengah sadar. Pandangannya samar-samar, namun ia masih bisa mendengar keadaan di sekelilingnya. Setelah Takeshi dimasukkan ke dalam mobil, pengemudi itu segera melarikan Takeshi ke rumah sakit terdekat.

Berhari-hari Takeshi terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Orang tuanya sama sekali tidak tahu keadaan Takeshi karena tidak ada orang yang mengabari mereka. Namun setiap hari pengemudi yang menabrak Takeshi datang ke rumah sakit untuk melihat keadaannya.

Takeshi mulai siuman seminggu kemudian setelah peristiwa itu. Ketika siuman, ia menemukan seorang wanita berada di sisi tempat tidurnya. Pandangannya masih samar-samar dan belum pulih sepenuhnya. Saat itu kira-kira menunjukkan pukul sebelas malam. Ia berusaha membangunkan tubuhnya yang masih lemah untuk melihat keadaan sekelilingnya.

Sambil memandangi sekelilingnya, ia menyadari bahwa sekarang ia ada di rumah sakit. Namun sekarang ia merasa ada sesuatu yang aneh di kepalanya. Ia merasa kepalanya terasa berat dan kosong sama sekali. Ia terus memegangi kepalanya yang masih dibungkus oleh perban. Ia berusaha mengingat peristiwa yang telah menimpanya. Namun tak satu pun kejadian yang ia ingat, bahkan yang lebih mengejutkan ia tidak ingat sama sekali dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba pengemudi yang menabrak Takeshi bangun dari tidurnya. Ia memandangi Takeshi dengan perasaan cemas. Takeshi melihat orang itu dengan perasaan bingung seperti pernah mengenali orang tersebut, kemudian ia berkata, “Siapa kamu?”

“Ini aku nona Mery. Kau tidak mengenaliku? Aku adalah tamu di perusahaan tempat kamu bekerja. Kamu pernah menjemputku di bandara. Maafkan aku, aku telah menyebabkan semua ini terjadi. Bagaimana keadaanmu saat ini?” tanya nona Mery.

“Kau… kau yang menyebabkan semua ini? Apa maksudmu? Ceritakan apa yang telah terjadi?”

“Saat itu aku sedang buru-buru menuju ke perusahaan tempat kamu bekerja. Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Tiba-tiba aku menabrak kamu yang sedang menyeberangi jalan.” kata nona Mery dengan ekspresi yang sedih. “Maafkan aku Takeshi, aku sungguh menyesal. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak terbiasa mengemudi di kota ini… maafkan aku ya. Aku sungguh menyesal!” nona Mery berkata dengan wajah berurai air mata. Tiba-tiba ia memeluk Takeshi yang saat itu sedang bingung berusaha mengingat apa yang diceritakan nona Mery.

“Tapi…” kata Takeshi. “Tapi aku tidak ingat apa yang kamu ceritakan! Dan aku tidak kenal kamu. Kamu siapa…!?? Dan aku ini siapa…!??” Takeshi berkata sambil melepaskan pelukan nona Mery.

“Aku Mery! Kamu pernah menjemputku di bandara. Dan kamu adalah Takeshi, kamu bekerja sebagai supir.” jawab nona Mery sambil ketakutan. “Apa yang terjadi padamu…! Masa kamu tidak mengngat aku! Kita pernah makan bersama. Waktu itu aku mentraktirmu makan pada saat hari pertama kamu bekerja.”

Takeshi terus diam berusaha mengembalikan ingatannya. “Aku tidak ingat apa-apa…! Kepalaku sakit sekali, aku sungguh tidak ingat apa-apa. AAA…! Kepalaku sakit sekali.”

Nona Mery diam ketakutan memandangi wajah Takeshi yang sedang bingung. Ia segera berlari meninggalkan Takeshi yang sedang melamun di atas tempat tidur. Ia segera memanggil dokter. “Dok…! Cepat ke sini. Cepat…!!!” Nona Mery berteriak dengan panik.

------***------

“Bagaimana keadaannya dok?” tanya nona Mery kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Takeshi. Saat ini Takeshi sedang tidur setelah diberi obat penenang.

“Anda ada hubungan apa dengan pasien?” tanya dokter itu kepada nona Mery.

“Saya… saya…” jawab nona Mery dengan bingung. “Saya kakaknya.”

“Dia kehilangan ingatannya. Di dalam kepalanya ada darah yang membeku. Kira-kira butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan ingatannya seperti semula. Atau bahkan…”

“Atau bahkan apa dok?” tanya nona mery dengan penasaran.

“Atau bahkan ia tidak bisa pulih untuk selamanya.”

“Jangan dok! Sembuhkan dia dengan teknologi kedokteran saat ini! Berapa pun biayanya bukan masalah.”

“Baik, akan kami usahakan. Kita lihat saja hasilnya nanti.”

Setelah itu Takeshi menjalani perawatan di rumah sakit selama berbulan-bulan. Seluruh biaya perawatan diurus oleh Nona Mery. Seminggu tiga kali nona Mery datang mengunjungi Takeshi untuk melihat keadaannya. Kalau ia tidak sempat datang, ia mengirim orang untuk membawa makanan untuk Takeshi.

Nona Mery membayar orang untuk mencari tahu jati diri Takeshi. Usaha mereka sia-sia karena Takeshi bukan orang Korea, ia baru pindah dari Jepang, jadi data diri mereka belum tercatat sebagai warga negara Korea.

Hubungan antara Takeshi dan nona Mery menjadi semakin akrab. Nona Mery mengaku kepada pihak rumah sakit sebagai kakak Takeshi agar diperbolehkan merawat Takeshi. Sudah setengah tahun Takeshi berada di rumah sakit, kondisi tubuhnya sudah pulih namun tidak ada perkembangan pada ingatannya. Dua bulan sekali nona Mery minta izin kepada pihak perusahaan untuk membawa Takeshi ke luar berekreasi supaya kondisi ingatannya cepat membaik.

Suatu ketika, nona Mery mengajak Takeshi berekreasi ke pantai. Di sana mereka dapat menghirup udara laut yang segar dan berbaring melihat indahnya matahari terbenam.

Tiba-tiba nona Mery mengatakan sesuatu pada Takeshi, “Takeshi, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“lya, apa yang ingin kamu tanyakan?” jawab Takeshi sambil menendang-nendang air ombak yang dingin.

“Sudah setengah tahun lebih kamu menjalani perawatan di rumah sakit. Seandainya suatu saat nanti ingatanmu pulih kembali. Apa yang akan kau lakukan?”

“Hmm… mungkin aku akan segera kembali kepada orang tuaku dan kembali pada kehidupanku yang dulu.”

“Setelah kembali pada kehidupanmu yang dulu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya nona Mery dengan penasaran.

Takeshi menjawab dengan tersenyum, “Mungkin aku akan mencari pekerjaan, hmm… setelah itu aku akan mencari seorang wanita yang mau hidup bersama denganku untuk aku nikahi. Lalu…”

“Lalu apa…!” Tanya nona Mery sambil mengejar Takeshi yang sedang berlari di tepi pantai.

Lalu Takeshi berteriak, “Lalu aku akan membangun sebuah keluarga yang indah. Aku berjanji akan menjaga mereka dengan sungguh-sungguh… mencintai mereka dengan tulus… tapi…” kemudian Takeshi berhenti berlari dan memandangi indahnya langit yang memerah ketika matahari mulai terbenam.

“Tapi apa…?” tanya nona Mery yang juga ikut berhenti berlari.

Takeshi tidak menjawab apa-apa, ia terdiam memandangi langit seakan-akan tidak pernah melihat matahari terbenam. Nona Mery pun tidak melanjutkan pertanyaannya, ia duduk di samping Takeshi yang sedang berdiri memandangi langit.

Takeshi terdiam selama beberapa menit tanpa mengedipkan mata. Ia menatap matahari tenggelam dengan perasaan takjub yang luar biasa. Seakan-akan saat itu adalah pertama dan terakhir kalinya ia melihat matahari tenggelam. Tak lama kemudian ia melanjutkan jawabannya, “Tapi…”

Ucapannya kembali membuat nona Mery dari lamunannya dan matanya menatap ke arah Takeshi.

“Tapi aku tidak tahu apakah suatu saat nanti akan ada seorang wanita yang mau menikahiku… aku takut ingatanku tidak bisa pulih kembali.” kata Takeshi sambil terus menatap ke arah matahari terbenam. “Aku takut selamanya akan terus hidup seorang diri sebagai manusia yang terbuang dari masa lalunya...”

Tiba-tiba nona Mery bangkit dan memeluk Takeshi dari belakang, “Jangan berkata seperti itu, aku akan berusaha memulihkan ingatanmu. Seandainya ingatanmu tidak bisa pulih, kau tidak perlu hidup seorang diri… Aku akan menemanimu, kita bisa memulai masa depan yang baru.” Kata nona Mery sambil menangis. “Aku sangat mencintaimu… seandainya kau tidak bisa kembali ke masa lalumu, aku akan menemanimu selamanya…!”

Takeshi terharu mendengar ucapan nona Mery, ia tidak menyangka bahwa nona Mery mencintainya. Selama ini ia hanya berpikir bahwa nona Mery merawatnya hanya untuk menebus kecerobohannya yang telah menyebabkan kecelakaan itu.

“Ya… apakah kau sungguh-sungguh akan menemaniku seumur hidupku?” tanya Takeshi.

“Iya… aku… aku berjanji akan bersamamu, menemanimu… kita bisa membangun keluarga yang bahagia bersama…” jawab nona Mery sedang mengeluarkan air mata. “Aku mencintaimu Takeshi! Aku sangat mencintaimu…!”

------***------

Keesokannya nona Mery berencana untuk mengeluarkan Takeshi dari rumah sakit. Kondisi Takeshi saat ini sudah memungkinkan untuk menjalani pengobatan di luar rumah sakit. Dalam satu hari nona Mery mengurusi administrasi rumah sakit dan kemudian ia segera membawa Takeshi ke tempat tinggalnya. Sekarang mereka dapat hidup bersama dan menunggu hari baik untuk menikah. Nona Mery berusaha mencari tahu mengenai asal-usul Takeshi dan keberadaan orang tua Takeshi. Setelah menemukan keberadaan orang tua Takeshi, mereka baru akan menikah.

Sebagai seorang presiden direktur, nona Mery mempunyai kesibukan yang cukup padat. Setiap hari ketika nona Mery bekerja, Takeshi diam di rumah menunggu calon istrinya pulang. Suatu ketika, saat nona Mery sedang berada di luar, seperti biasa Takeshi sibuk mencari jati dirinya dan keberadaan orang tuanya di internet. Takeshi mencari tahu di situs data statistika penduduk negara tersebut.

Berminggu-minggu ia mencari tanpa hasil. Akhirnya ia mencoba mencari tahu di situs data statistik penduduk lnternasional. Beberapa menit mencari, tiba-tiba ia menemukan apa yang ia cari selama ini. Ayahnya adalah seorang pengusaha Jepang yang sekarang berada di Korea karena membuka cabang perusahaan di sini. Selama beberapa menit ia terus memandangi jati diri orang tuanya di layar komputer. Pikirannya terus berputar berusaha membongkar masa lalunya. Meskipun kepalanya sakit, ia terus memaksakan diri untuk membuka masa lalunya kembali…

Akhirnya ingatannya kembali pulih, semua kenangan bersama orang tuanya, kampung halamannya dan segalanya kembali muncul di dalam pikirannya. Seperti orang yang bebas dari belenggu, Takeshi segera berlari menuju ke perusahaan ayahnya di Korea. Ia ingin melihat keadaan kedua orang tuanya yang sudah lama tidak ditemuinya.

Dengan sedikit uang, Takeshi segera berlari menuju ke terminal bus untuk sampai ke perusahaan ayahnya. Ia berlari meskipun saat itu sedang hujan deras. Ia berlari tanpa melihat keadaan sekelilingnya. Meskipun mobil-mobil sedang melaju kencang, Takeshi terus berlari tanpa henti. Kemudian…. secara tiba-tiba… sebuah mobil melaju kencang menghembaskan Takeshi ke tengah jalan… Kepala Takeshi mengeluarkan banyak darah dan… dan kali ini ia tidak mungkin dapat di selamatkan kembali… luka di kepalanya akibat kecelakaan yang lalu kembali terbuka kembali. Darah terus mengalir tanpa henti…

Sekarang kecelakaan itu kembali terulang, Takeshi kembali tertidur di tempat ia mengalami kecelakaan pada waktu itu…

Pada jam yang sama…

Dan oleh…


------ The end ------



By : Jimmy Lobianto

0 Comments:

 

blogger templates 3 columns | Design by Jimmy Lobianto