Love in Valentine's Day (part 1)


Mungkin kalian tidak akan pernah percaya dengan apa yang akan kuceritakan saat ini, tapi siapa yang tahu kalau semua yang akan kuceritakan ini pernah dialami oleh seseorang di dunia ini. Cerita ini memang sangat tidak masuk akal, namun kadang hidup ini memang tidak bisa ditebak, dan sebenarnya hidup ini memang penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

Kisah ini menceritakan tentang kekuatan cinta yang dapat mengubah segalanya, bahkan membuat hal yang tidak mungkin menjadi kenyataan… dalam kehidupan ini.


------ * * * ------

Namaku James, pemuda berusia 24 tahun yang akan melanjutkan study S2 di luar negeri. Karena desakan orang tua maka aku mengambil program S2, padahal sebenarnya aku tidak ingin belajar lagi karena bagiku semua itu sangat membosankan. Aku hanya ingin mencari pekerjaan dan kemudian membangun sebuah keluarga yang indah bersama kekasihku.

Dia bernama Marry… bagiku ia adalah seorang gadis yang sangat cantik, baik dan sempurna. Kami sudah menjalin hubungan jauh sebelum aku mulai kuliah. Kami dapat bersama sampai sekarang karena kami saling memahami dan menyayangi satu sama lain. Meskipun kami kadang-kadang pernah bertengkar tetapi kami sadar semua itu hanyalah emosi sementara, dalam waktu singkat dapat kami selesaikan dengan cinta kasih.

Sekarang tepat tanggal 14 Februari dan 3 hari lagi aku harus berangkat ke luar negeri melanjutkan kuliahku. Ini adalah hari Valentine terakhir kami bersama sebelum aku berangkat. Berat rasanya bagiku untuk melepas semua ini selama dua tahun… Aku sangat menyayanginya, mencintainya… Bagaimana aku dapat menjalani hari-hari tanpa dirinya di sana seorang diri tanpa cinta dan perhatiannya.

Pada hari Valentine ini, hatiku begitu sedih dan menangis. Aku makan malam di rumahnya bersama keluarganya… Makan malam itu terasa panjang bagiku. Saat itu aku merasa itu adalah makan malam terakhir ku dengan mereka… selesai makan malam, kami berdua duduk-duduk di ruang tamu sambil mendengarkan lagu. Pandanganku selalu tertuju padanya, aku memang tidak tega untuk meninggalkannya. Tanganku ingin selalu membelai rambutnya yang panjang terurai. Rasanya aku ingin memeluknya dan tidak mau melepaskannya sampai hari Valentine tahun depan…

Tiba-tiba ia memberikan sesuatu padaku, “Sayang… tolong kamu simpan hadiah ini. Ini kenang-kenangan supaya kamu selalu mengingatku di sana.”

Aku kemudian mengambilnya, menatap pemberiannya dengan hati yang sedih. Aku berjanji akan menjaga dan menyimpannya seumur hidupku. Kemudian aku mengeluarkan sesuatu dari kantongku, sebuah hadiah kecil yang di dalamnya berisi sebuah kotak music berwarna biru… dan memberikan kepadanya. “Marry… aku juga punya sesuatu untukmu. Aku berharap kamu selalu menyimpannya. Aku tidak tahu apakah kamu menyukainya atau tidak… tapi aku ing…”

Tiba-tiba ia memelukku dengan erat… “James… jangan berkata seperti itu, aku tidak perduli apa pun isinya… aku akan menjaganya seperti kamu menjagaku selama ini...” Marry berkata sambil menguraikan air mata. Pedih rasanya bagiku mendengar tangisannya, padahal selama ini aku berjanji berusaha untuk tidak membuat ia menangis. Namun kepergianku kali ini telah membuatnya menangis.

“James… sesungguhnya aku tidak ingin kamu pergi. Aku tak sanggup harus melalui setiap hari tanpamu… maafkan aku berkata seperti ini.” Ia terus menangis dan pelukannya yang semakin kencang menunjukkan kalau ia sungguh-sungguh tidak mengijinkan aku pergi.

Kemudian ia berkata, “Tapi sudahlah… aku tahu kalau aku tidak boleh egois… kamu boleh pergi tapi kamu harus berjanji padaku…”

“Ya Marry, aku sayang padamu, aku berjanji akan menepati janjiku…”

“Kamu harus menyelesaikan kuliahmu dengan baik, dan kembali ke sini dengan selamat. Kamu boleh melupakan aku, kamu boleh meninggalkan aku… tapi kamu harus kembali ke sini dengan selamat.”

“Jangan berkata seperti itu Marry… aku sedih mendengar kamu berkata seperti itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku tidak akan pernah melupakanmu… aku akan selalu mencintaimu selamanya…” Aku berkata dengan perasaaan sedih… “mengapa kamu berkata seperti itu Marry, aku sedih mendengarnya, aku sangat mencintaimu…!”

“Aku tahu James… aku juga sangat mencintaimu… pokoknya apa pun yang terjadi kamu harus kembali dengan selamat!!!”

Kemudian aku mencium bibirnya yang merah dengan lembut, tanganku terus membelai rambutnya. Pelukannya semakin erat… membuat aku tak rela melepaskannya…

Waktu berlalu begitu cepat, aku kemudian pamitan pada keluarganya. Malam ini aku berjanji pada papaku untuk tidak pulang terlalu larut. Marry mengantarkanku sampai ke pintu depan… sebelum aku pulang ia melingkarkan tangannya di pundakku, kemudian mencium keningku… aku pun membalasnya dengan lembut... Setelah itu aku pergi pulang ke rumah…

------ * * * ------

Tanggal 17 Februari nanti aku harus berangkat melanjutkan kuliahku. Waktuku hanya tinggal 2 hari bersama dengannya. Kami meluangkan banyak waktu untuk selalu berdua sebelum aku pergi. Ia membantu menyiapkan segala keperluanku, ia membantu mengepak barang-barang yang aku perlukan disana, sampai pada hal-hal yang kecil pun ia siapkan untukku. Ia sangat memperhatikan aku, ia tidak ingin aku kekurangan sesuatu apa pun di sana.

Satu hari telah berlalu… sekarang tanggal 16 Februari, esok pagi aku harus berangkat pukul 07.00 pagi. Ini malam terakhir kami berdua sebelum aku pergi. Karena semua keperluanku sudah beres, sore ini aku meluangkan waktuku untuk jalan-jalan berdua dengannya. Kami pergi ke pantai untuk melepas tekanan batin kami dan membicarakan semua hal sebelum aku pergi.

Kami duduk menghadap matahari tenggelam, pemandangan ini sangat mengesankan. Namun deburan ombak membuat hatiku semakin kacau, aku semakin tak sanggup untuk meninggalkannya sendiri.

“hei! Kamu kok melamun aja?” tiba-tiba ia memeluk aku. “Sayang, ga usah mikiran apa-apa. Besok kan kamu harus berangkat… jadi sekarang aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu…”

Kata-katanya membuat hatiku menangis, berat rasanya untuk meninggalkan dia… ini pertama kalinya aku meninggalkan dia untuk jangka waktu yang sangat lama, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. “Marry, aku mau melakukan sesuatu…” kemudian aku melepaskan pelukannya dan berdiri tegak menghadap ke laut…

Aku berteriak sekencang-kencangnya… “Marry…! Aku cinta padamu… aku tidak akan melupakanmu…! Aku berjanji akan membuat kamu bahagia…!”

Tiba-tiba ia berdiri dan ikut berteriak… “James…! Aku juga sangat mencintaimu… aku sangat menyayangimu…! Aku tak akan pernah melupakanmu…”

Setelah itu kami saling berpelukan… lalu aku berkata, “Marry… apa pun yang terjadi aku berjanji akan kembali selambat-lambatnya satu hari sebelum hari Valentine…”

“Iya say, aku akan menunggumu… aku tidak akan melupakanmu…”

Matahari yang sedang tenggelam, merahnya langit, deburan ombak, karang-karang laut, hembusan angin… semuanya menjadi saksi cinta kami dan janjiku padanya… SELAMBAT-LAMBATNYA SATU HARI SEBELUM VALENTINE AKU AKAN KEMBALI DI HADAPANNYA… dan tak akan pernah meninggalkannya lagi…

Kemudian aku jongkok dan mencari sesuatu yang tiba-tiba melintas dalam pikiranku… aku menemukan sepasang cangkang keong yang indah… warnanya terlihat keemasan di bawah sinar matahari yang tenggelam. Aku memberikan satu untuknya, “Marry… aku mau kamu menyimpan ini, aku berharap jika suatu saat nanti terjadi sesuatu padaku… benda ini dapat mempersatukan kita kembali...”

“Jangan bilang seperti itu James, aku ga mau terjadi sesuatu padamu… aku berjanji akan menyimpan keong ini. Tepat pada saat kamu kembali aku akan memperlihatkan keong ini padamu…”

Waktu berlalu begitu cepat, hari sudah semakin gelap. Aku kemudiannya mengajaknya untuk makan malam berdua…

------ * * * ------

Sekarang tanggal 17 Februari, sekitar pukul enam pagi ia sudah tiba dirumahku. Ia bersama keluargaku akan mengantarkan aku ke bandara… semua barang-barang sudah siap dibawa. Kami segera menuju ke bandara… selama di dalam mobil, aku terus menggenggam tangannya seakan-akan aku tidak akan pernah kembali lagi…

Setiba di bandara, sebelum naik ke pesawat… aku mengucapkan sesuatu padanya, “Marry… kamu harus jaga diri baik-baik ya. Kalau lagi senggang kamu datang aja ke rumahku, aku sudah titip pesan kok sama mama. Aku janji akan kuliah yang baik, dan aku akan segera menyelesaikan kuliahku dan kembali padamu…”

“Iya James, aku akan baik-baik saja. Kamu juga harus jaga diri di sana, jangan sampai jatuh sakit ya. Aku tidak akan melupakanmu.” Setelah berkata itu… ia mengecup keningku. Kemudian aku membalas dan memeluknya. Saat ini aku tidak perduli dengan orang-orang di sekitarku, aku ingin terus memeluknya untuk waktu yang lama…

Waktu keberangkatan pesawat tinggal 10 menit… orang tuaku memanggilku untuk segera menuju ke pesawat. Sebelum pergi memasuki pesawat aku menatapnya untuk yang terakhir kalinya… ia terlihat sangat sedih dengan kepergianku…

------ * * * ------

Kini aku telah berada di dalam pesawat, lima menit lagi pesawat akan tinggal landas meninggalkan kota ini… aku… aku… aku akui ini memang pertama kalinya aku naik pesawat, tapi entah mengapa rasanya jantungku berdebar dengan kencang sekali, mungkin karena aku gugup atau… atau karena… atau karena firasatku memberitahukanku akan terjadi…

Ahh… mungkin hanya perasaanku yang terlalu berlebihan… aku tidak terlalu menanggapinya… tapi… tapi harus kuakui jantungku tak pernah berdetak sekencang ini… ini sangat menyakitkan, sangat menyesakkan… aku sadar aku tidak pernah menderita asma… tapi mengapa jantungku berdetak seperti ini… seakan-akan mau meledak…

Ohh… apa yang sedang terjadi padaku… aku hanya bisa berdoa dalam hati…

“Tolong kencangkan sabuk pengaman anda, kita akan tinggal landas satu menit lagi.”

Aku terkejut tiba-tiba seorang pramugari muncul di hadapanku… kemudian aku segera memasang sabuk pengaman sesuai dengan perintahnya.

“Ada hal lain yang bisa saya bantu? Sepertinya anda terlihat pucat, apakah anda sedang sakit?” dia bertanya dengan tatapan wajah yang ramah.

“Tidak perlu, terima kasih… aku hanya perlu istirahat sejenak.”

“Baiklah, kalau ada perlu apa-apa panggil kami ya. Permisi...”

Setelah itu beberapa detik kemudian, pesawat tinggal landas… tubuhku serasa bergetar kencang ketika pesawat naik ke udara… aku tidak merasa mual atau pun pusing… namun jantungku terus berdebar kencang tidak seperti biasanya…

Aku berusaha menenangkan diriku sebisa mungkin… kemudian aku mengambil buku –buku yang ada di tas kecilku. Aku membaca buku untuk menghilangkan perasaanku yang sedang sangat tidak enak…

------ * * * ------

Tanpa terasa waktu sudak berlalu beberapa jam… aku sudah menghabiskan tiga gelas minuman soda. Rasanya mataku sangat berat… aku… aku ngantuk sekali… aku mau tidur sejenak…!

“Para penumpang… sekarang kita sedang berada di atas samudera Pasific… dalam waktu kurang lebih lima jam kita akan tiba di tujuan…”

Suara tersebut membuat aku tersadar, padahal sebentar lagi aku mulai terlelap… kemudian aku mengalihkan pandanganku keluar jendela… menatap hamparan samudera biru yang membentang luas…

Tiba-tiba terdengar suara kasak-kusuk di ruangan pilot… sepertinya terdengar suara beberapa orang yang sedang panik. Entah apakah cuma telingaku yang salah dengar atau memang terjadi sesuatu di sana. Namun sepertinya telingaku tidak salah dengar… beberapa orang di sekitarku sepertinya juga mendengar keributan di ruang pilot, mereka melihat ke arah sana… apa yang sedang terjadi…?

Tiba-tiba terdengar suara jeritan pramugari… “WAAA…!”

------ * * * ------

Dalam sekejap semua berubah menjadi gelap…! Gelap… gelap gulita!

Apa yang terjadi dengan pandanganku? Mataku tidak melihat apa-apa… tidak ada cahaya sedikit pun yang terlihat… dan… dan sepertinya aku tidak sedang duduk di sofa pesawat… aku… aku seperti berada di suatu tempat… tapi… tapi tidak terlihat apa pun di sini…

Aku… aku tidak takut sama sekali… tapi aku sangat bingung…! Apa yang sedang terjadi padaku… apa yang sedang menimpaku…

Tiba-tiba muncul sebuah cahaya di depanku, seperti sebuah cahaya lilin. Namun… namun ia bergerak… mungkin ada orang yang membawanya. Aku… aku tak punya pilihan lain selain mengikuti cahaya tersebut… entah aku akan sampai di mana, kakiku terus mengikuti gerakan cahaya itu…

Beberapa menit kemudian… aku… aku tiba di suatu tempat… ASTAGA… apa ini…!??
Apakah ini yang dinamakan gerbang akhirat… aku berdiri di suatu tempat yang megah, sekeliling tempat ini ditutupi oleh api yg besar berkobar-kobar, tapi tidak menjalar ke tengah… sebuah pintu merah besar terbentang di hadapanku, di dalam bangunan itu ada sebuah meja besar yang ditempati oleh seorang… seorang… sepertinya ia adalah raja akhirat…

Sulit kupercaya apa yang sedang kulihat… aku tak tahu apakah ini mimpi atau bukan… atau aku… aku… aku memang sudah meninggal. Aku benar-benar tidak ingat apa yang selanjutnya terjadi setelah mendengar teriakan pramugari wanita itu, setelah mendengar teriakannya… semuanya menjadi gelap…gelap gulita…!

“Kau orang baru… segera masuk ke dalam… yang lain sedang menunggumu…!” terdengar suara dari belakangku… ketika aku menoleh kebelakang… terlihat seorang pria yang memakai jubah putih…

Kemudian ia berkata, “cepat masuk!”

Aku kemudian masuk ke dalam ruangan itu… terlihat sekumpulan orang sedang duduk di hadapan raja akhirat… mereka semua memakai jubah putih, dan… dan aku ternyata juga memakai jubah putih… aku tak sadar kapan aku memakainya… tiba-tiba saja aku baru menyadari kalau aku juga mengenakan jubah putih…

Kemudian aku dibawa menuju ke kursi yang kosong… aku disuruh duduk, kemudian pria berjubah putih itu pergi meninggalkan ruangan dan menutup pintu besar itu… kini hanya tinggal kami dan raja akhirat…

“Lie Xang! Ceritakan bagaimana kamu meninggal!” raja itu berkata kepada seorang yang duduk di ujung kanan…

“Aku meninggal karena jatuh didorong oleh saudaraku, ia mendorongku hingga aku jatuh dari tangga… aku sangat membencinya…!”

“Itu kesalahanmu… kalian kakak dan adik saling berebut harta warisan orang tua… akhirnya kalian saling bunuh dan akhirnya kau yang terbunuh terlebih dahulu…! Pengawal… kurung dia di neraka selama dua generasi…”

Tiba-tiba saja muncul dua orang berbadan besar dengan jubah hitam membawa pergi orang tersebut… mereka bertiga hilang dalam sekejap…

“Catherine… ceritakan bagaimana kamu meninggal?” ia bertanya pada perempuan yang tadi duduk di sebelah Lie Sang…

“Aku meninggal karena suatu penyakit… mungkin aku terkena penyakit kanker…!”

“Jangan menipuku…! Aku tahu kamu selingkuh dengan pria lain, padahal kamu sudah memiliki suami yang baik dan dua orang anak. Ternyata pria yang berselingkuh denganmu memiliki penyakit kelamin… dan akhirnya kau tertular dan kau mati lebih dulu karena kondisi tubuhmu yang lemah. Untung saja suami dan anak-anakmu tidak sempat tertular penyakitmu itu” raja itu berkata dengan sangat marah kepada wanita tersebut… “tak usah khawatir… tiga hari pria selingkuhanmu juga akan menyusul ke sini… pengawal kurung dia di neraka untuk selama-lamanya…!”

Dan akhirnya perempuan itu bernasib sama dengan orang yang sebelumnya…

“Thomas… ceritakan bagaimana kamu bisa meninggal…!”

“Aku meninggal karena penyakit turunan… padahal aku sedang berjuang agar dapat lulus kuliah.”

“Kau meninggal tanpa kesalahan apa pun, memang waktumu yg sudah habis… Seumur hidupmu kau adalah orang yang cukup baik, kau menjaga orang tuamu dengan baik, kau berbisnis dengan jujur… kau tidak pernah menerima uang orang tanpa alasan yang jelas. Meskipun kadang-kadang kau egois, namun prinsip hidupmu telah menjadikan kau sebagai orang yang benar… pengawal buat ia terlahir di dalam keluarga yang bahagia…”

Kali ini muncul dua orang pria besar berjubah putih dan membawa pergi Thomas…

Begitulah terus menerus… satu persatu menceritakan bagaimana kisah hidup mereka hingga mereka mati… yang banyak berbuat jahat dibawa ke neraka, yang banyak berbuat baik dibawa ke surga, dan ada beberapa yang dipertimbangkan kembali untuk terlahir di dunia…

Selama ini ternyata apa yang dinamakan surga dan neraka memang benar-benar ada… aku tak menyangka ternyata aku harus mati secepat ini… padahal aku sama sekali tidak mengerti mengapa aku bisa sampai ke tempat ini… semua masih membuat aku bingung. Mungkin nanti aku dapat menanyakannya kepada raja akhirat…

Marry…! Tiba-tiba aku teringat pada Marry! Aku… aku tak ingin meninggalkannya… aku masih punya satu janji padanya… aku harus kembali tepat satu hari sebelum Valentine… Ohh Tuhan! Apa yang harus kulakukan… mengapa aku harus mengalami hal-hal seperti ini…

------ * * * ------

“Hei kamu… James! Ceritakan bagaimana kamu meninggal!” ia berkata padaku.

“Aku… aku… aku tidak tahu mengapa aku bisa sampai ke tempat ini! Waktu itu aku sedang berada di dalam pesawat… tiba-tiba aku mendengar suara jeritan seorang wanita… lalu dalam sekejap semuanya menjadi gelap dan aku muncul di tempat ini…” aku seperti orang kebingungan.

“Kau meninggal karena kecelakaan dan waktu mu di dunia memang sudah habis. Waktu itu pesawat tiba-tiba meledak karena kondisi tekanan mesin pesawat tidak stabil… sampai saat ini tak seorang pun yang tahu mengenai kejadian itu… saat itu pesawat kalian tepat berada di atas samudera Pasifik, radar udara di negara-negara sekitar wilayah itu tidak menerima sinyal dari pesawat kalian. Dan tepat saat itu juga tak ada satu pun kapal yang melewati tempat itu.”

Jadi sampai saat ini Marry dan keluargaku tak tahu kalau aku sudah meninggal… bagaimana perasaan mereka jika mereka tahu kejadian ini. Dan satu hal lagi… aku ingin kembali ke dunia untuk menemui Marry, aku masih berhutang padanya… aku ingin melihat ia bahagia…!

“Aku tahu jalan pikiranmu saat ini, namun hal itu tidak mungkin. Meskipun seumur hidup kau adalah orang yang baik, tidak pernah merugikan orang lain, dan satu hal yang kukagumi… kau sangat jujur dan setia terhadap pasanganmu selama kau hidup di dunia.”

Aku segera bangkit dan menghampiri mejanya… “Tuan… tolong bantu aku! Aku harus bertemu dengannya, berikan aku waktu satu hari saja untuk bersama dengannya… setelah itu aku akan kembali ke sini dan menerima sanksi apa pun…”

Dia diam menatapku sejenak, kemudian ia berkata, “kau tahu… memang kadang-kadang ada orang yang hidup kembali setelah kematiannya… itu karena beberapa hal yang memutuskan bahwa mereka belum saatnya untuk mati… namun kamu… kamu memang sudah waktunya meninggal. Kau akan terlahir di keluarga kaya dan nantinya kau akan menikah dengan pasangan hidup yang lebih baik, apakah itu tidak cukup?”

“Aku tidak perduli di mana nanti aku akan terlahir, yang terpenting saat ini aku ingin bertemu dengannya sebentar saja… bantulah aku Tuan…!” aku berkata dengan sangat memohon padanya…

Kemudian aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di saku jubahku, aku merogohnya… dan… ternyata cangkang keong yang waktu itu kutemukan di pantai bersama Marry…

“James… boleh kulihat benda apakah itu?” ia berkata sambil menjulurkan tangannya ke arahku.

Kemudian aku memberikan cangkang keong itu padanya…

Setelah mengamati benda itu ia berkata, “dahulu kala ada seorang pria yang bernama Valentinos Aquanos, ia adalah seorang pemuda yang hidup di Inggris pada masa revolusi Industri. Saat itu semua anak laki-laki dari setiap keluarga dipaksa untuk kerja di pertambangan. Mereka tidak dizinkan untuk kembali ke keluarga mereka. Suatu waktu pada tanggal 14 Februari, karena tidak tahan melihat nasib sahabat-sahabatnya, Valentinos Aquanos memimpin demonstrasi besar-besaran menuntut agar para pekerja tambang diberikan cuti untuk kembali berkumpul pada keluarga mereka. Sejak saat itu, setiap tanggal 14 Februari para pekerja tambang diizinkan untuk pulang ke keluarga mereka…. karena kebaikan besar yang pernah dilakukan oleh Valentinos Aquanos, maka ketika ia meninggal aku memberikan ia satu permohonan yang akan ku kabulkan. Ia meminta siapa saja memiliki kesetiaan besar kepada pasangannya dan ia memiliki janji cinta yang belum diselesaikan, maka ia diperbolehkan kembali ke dunia untuk beberapa saat…”

Dengan gembira aku berkata, “Terima kasih Tuan…! Aku berjanji akan kembali secepatnya.”

“Baiklah, sesuai dengan janjimu pada pasanganmu, kau dapat bertemu kembali dengannya. Namun setelah melewati tanggal 14 Februari kau akan dibawa kembali ke tempat ini untuk menjalani reinkarnasi mu…”

Kemudian aku berkata, “apakah aku boleh pergi sekarang?”

Raja akhirat itu menjawab, “ya kau akan diantar ke duniamu dengan tubuh yang utuh… tetapi… sebelum tanggal 13 Februari… dirimu tidak akan dikenali oleh siapa pun. Mereka akan menganggapmu seperti orang lain. Pada saat tepat tanggal 13 Februari, mereka baru akan mengenali dirimu… namun kalau kau menceritakan mengenai semua kejadian di sini, maka saat itu juga kau akan kami bawa kembali ke tempat ini.”

Entah apakah aku harus senang atau tidak mendengar penjelasannya, namun bagiku bisa kembali melihat Marry itu sudah cukup. “baiklah Tuan… aku berjanji akan merahasiakan semua ini.”

“Pengawal… antar dia kembali ke dunianya….!”

Dalam sekejap muncul dua orang berjubah putih dan memegang pundakku… tiba-tiba semuanya menjadi gelap… gelap gulita… Ohh… sekarang aku sudah berada di duniaku… aku sudah kembali di kotaku… rumahku… Marry…

Pengawal berjubah putih itu memberiku nasehat… “kau tibak boleh kembali ke keluargamu, saat ini kau adalah orang lain dalam hidup mereka. Kau boleh mendekati mereka sebagai orang lain, namun kau tidak boleh menceritakan apa pun tentang akhirat…”

------ * * * ------

Kini aku tinggal di sebuah sederhana di sudut kota, jaraknya kira-kira dua kilometer dari rumahku yang dulu. Entah darimana rumah ini muncul, mereka tiba-tiba saja memberikannya padaku beserta dengan sejumlah uang untuk keperluan hidupku. Kini aku hidup sebagai orang baru, namun aku tahu bahwa sebenarnya aku sudah mati. Waktuku di dunia ini hanya sampai tanggal 14 Februari, kata raja Akhirat satu hari di Akhirat adalah satu tahun di bumi, berarti aku masih punya waktu satu tahun untuk melihat dunia ini dan… untuk bertemu dengan Marry… gadis yang sangat kucintai…

Kini aku hidup sebagai seorang pemuda sederhana yang hidup sendirian… aku mencoba melamar pekerjaan dan akhirnya aku diterima bekerja sebagai penjaga toko di sebuah mini market yang jaraknya tak jauh dari rumah Marry. Biasanya orang-orang di sekitar berbelanja kebutuhan sehari-hari di mini market ini. Aku berharap dia masih sering datang ke mini market itu, dengan begitu aku bisa bertemu sekaligus menjaganya dari jauh.

Dugaanku tepat… Marry masih sering datang berbelanja ke sini. Pertama kali aku melihatnya… ia masih tetap cantik seperti dulu… gadis yang ku cintai… namun… ia menatapku dan berbicara seolah-olah ia tidak mengenaliku. Aku bagaikan orang baru dalam hidupnya… rasanya aku ingin memberitahu siapa diriku ini… aku ingin bisa memeluknya kembali seperti dulu… tapi aku tak punya pilihan, aku harus bersabar sampai tanggal 14 Februari tahun depan. Sekarang aku hanya bisa hidup sebagai orang lain, mudah-mudahan saja aku bisa berteman dekat dengannya…

Kini aku sedang menjaga toko, saat ini sedang sepi… hanya ada beberapa pelanggan yang sering datang ke sini. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Marry sedang menuju ke sini, ia datang sendirian… kemudian ia masuk dan… menuju ke arah ku… “Maaf, aku mencari pasta gigi biru yang…”

“Iya, tunggu sebentar. Akan ku bawakan segera.” Kemudian aku pergi mengambil pasta gigi yang ia mau. Aku sudah tahu ia mau pasta gigi yang mana, pasta gigi yang biasa ia pakai sama dengan pasta gigiku… “ini pasta giginya…” aku menyerahkan pasta gigi itu padanya.

Marry menatapku seperti orang bingung… lalu ia berkata, “Bagaimana kau bisa tahu aku mau pasta gigi ini?”

Ohh.. aku lupa, seharusnya aku berpura-pura menjadi orang lain. Kini aku tidak tahu harus menjawab apa… “Aku… aku… aku hanya menebak saja! Aku… aku pernah belajar membaca pikiran.”

Dia terus menatapku seakan tidak mempercayai jawabanku… aku diam membisu… aku tidak berani memberitahukan siapa diriku sebenarnya…

“Sepertinya aku mengenalmu…” dia berkata padaku dengan tatapan matanya yang indah ke arahku. “apakah kita pernah bertemu? Siapa namamu?”

Waduh…! Apa yang harus ku jawab…“ehh, namaku… namaku… Josh… kau…?”

“Namaku Marry… kamu tinggal dimana? Sepertinya aku pernah mengenalmu… atau kita pernah satu sekolah?” dia terus bertanya padaku… dan aku tak tahu harus menjawab apa. Kalau aku memberitahukan jati diriku… berarti aku sudah melanggar janjiku dengan raja Akhirat…

“Tidak… tidak… aku baru pindah ke sini. Aku orang baru di sini… aku… aku tidak mengenal kamu, ini pertama kalinya aku berjumpa denganmu…” Aku mencoba menjawab sebisaku… setelah itu aku langsung cepat-cepat pergi mengurusi pelanggan yang lain…

------ * * * ------

Hari demi hari kulalui dengan perasaan tertekan, aku sebenarnya sangat ingin lari dari semua ini… aku ingin memberitahu Marry tentang jati diriku sebenarnya, aku ingin kembali ke dalam kehidupan Marry… aku tak perduli tentang janjiku dengan raja akhirat… aku ingin lari dari kematian…

Ohh Tuhan… apa yang harus kulakukan!?? Apakah setelah melewati tanggal 14 Februari aku harus kembali ke akhirat… rasanya aku ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini, aku ingin hidup seperti orang lain, aku ingin mati pada usia tua… aku ingin mati dengan cara yang wajar…! Ohh… seandainya saja aku bisa hidup lebih lama…

Aku sudah menjalani kehidupan baruku selama hampir setahun… sebulan lagi adalah bulan Februari. Selama ini aku hidup dan menunggu setahun tanpa Marry… tanpa orang yang kucintai… padahal setiap hari aku bertemu dengannya, aku berbincang dengannya, aku bisa melihat ia tertawa dan bercanda, tapi… tapi aku harus hidup berpura-pura sebagai orang lain… aku harus berpura-pura tidak mengenali orang yang kucintai… kehidupan seperti apa ini…! Aku tak bisa meraih apa yang ada dihadapanku… aku tidak bisa menyentuh apa yang kulihat… seolah-olah aku hidup di dalam tubuh orang lain….! Setiap kali tubuh ini berada dekat dengannya… hatiku berteriak ingin mengatakan kenyataan yang selama ini kualami.

Apakah semua ini mimpi…! Aku tak percaya semua ini ada… aku mati dalam kecelakaan pesawat, aku tiba-tiba di bawa ke akhirat, bertemu dengan raja akhirat… melihat surga dan neraka, dan… dan melihat orang-orang yang telah mati…! Apakah semua ini kenyataan…!!? Aku tidak percaya bahwa aku telah mengalami semua ini! Semuanya seperti cerita dalam film-film di televisi…! Seandainya ini mimpi, aku ingin cepat-cepat bangun dan melihat duniaku yang sebenarnya… aku ingin segera bangun dari mimpi ini…!

“HEI…! Kenapa melamun…!!?” tiba-tiba Marry muncul di hadapanku, ia membuat aku sadar dari lamunanku…

Aku menjawab, “ehh… ehh… iya ada apa say?”

Tiba-tiba… matanya menatapku dengan aneh, seakan-akan ia marah padaku. Ada apa ini…? Kenapa ia melihatku seperti itu? Apakah aku melakukan kesalahan?

Akhirnya ia berkata, “apa yang baru saja kamu katakan… coba ulangi lagi.”

“Ehh… aku… aku tidak mengatakan apa-apa! Tadi aku bilang… ada… apa… s s s…” Ohh… aku baru saja melakukan kesalahan besar!!! Aku bilang… ada… apa… say…?

“Kok kamu tiba-tiba bicara seperti itu sih? Memangnya kamu pacarku? Hanya pacarku yang boleh memanggilku seperti itu?” ia berbicara dengan nada marah, tapi sepertinya ia bingung melihat tingkah lakuku selama ini. Aku takut ia menyadari kalau aku adalah James, pacarnya yang seharusnya sedang berada di luar negeri melanjutkan kuliahnya. Jika jati diriku terungkap… maka pengawal raja Akhirat akan segera muncul dan menyeretku kembali ke Akhirat…!

“Maafkan aku, tadi aku sedang melamun… jadi aku tidak sengaja berbicara seperti itu. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Aku berusaha untuk menutupi jati diriku sampai tanggal 14 Februari nanti.

Ia masih tetap diam membisu di depanku… aku tidak tahu apakah ia sedang marah ataukah sedang bingung tentang diriku… akhirnya ia berkata, “ya sudah… aku ke sini mau membeli daging sapi asap, sosis, tuna, mentega dan keju.”

“Ohh… kamu mau mengadakan barbeque ya?” aku tiba-tiba saja bertanya seperti itu…

“Iya… keluargaku akan mengadakan pesta barbeque malam ini… aku mengundang teman-teman keluargaku yang ada di sekitar sini.”

“Ohh… begitu…” rasanya aku ingin minta agar diundang di pestanya nanti, aku ingin bisa lebih dekat dengannya. Lagipula aku tahu pesta ini diadakan untuk merayakan hari ulang tahun mamanya.

“Kalau kamu sempat… datang saja nanti malam.” Tiba-tiba ia mengajakku, seolah-olah ia tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Hah!? Baiklah aku akan datang nanti malam… lagipula aku bisa membantumu untuk menyiapkan keperluan pesta nanti.” Aku senang sekali bisa datang ke pesta ia, mudah-mudahan saja aku bisa lebih dekat dengannya. “Baiklah akan aku ambilkan pesananmu…” kemudian aku langsung pergi mengambilkan apa yang ia mau.

------ * * * ------

Setelah selesai bekerja, aku langsung pulang untuk beres-beres. Setelah itu aku langsung menuju ke rumah Marry. Aku ingin membantu keluarganya menyiapkan keperluan pestanya.

“Wow, kamu datangnya cepat sekali? Ayo silakan masuk… sekarang aku lagi bantu mama menyiapkan keperluan buat pesta nanti malam.”

“Aku akan membantumu Marry… tadi kan aku sudah janji untuk membantumu.”

Setelah itu kami masuk dan bertemu dengan orang tuanya, “mama, kenalkan… ini teman baru Marry, dia yang bekerja di mini market di depan jalan ini.”

“Iya tante, nama saya Josh.” Sebenarnya kita sudah saling kenal, dulu aku juga sering membantu orang tua Marry untuk menyiapkan keperluan barbeque.

“Ayo Josh silakan masuk. Tante sekarang lagi menyiapkan makanan buat pesta nanti.” Ia berkata dengan ramah kepadaku…

Setelah itu aku diajak masuk ke dapur dan membantu mereka menyiapkan keperluan untuk barbeque. Aku melakukan yang terbaik yang aku bisa, aku berusaha menarik simpati mereka agar aku dapat semakin dekat dengan keluarga Marry… Sewaktu sedang mencuci peralatan dapur, aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada mamanya Marry, ia terkejut sekali karena aku mengetahui hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kebetulan saat itu Marry sedang keluar menata makanan di belakang rumahnya, jadi aku bilang saja aku tahu dari Marry…

Akhirnya semuanya telah selesai, kini sudah pukul 7 malam. Orang-orang yang diundang sudah mulai datang satu persatu. Aku membantu Marry memanggang daging-daging barbeque. Kedua orang tua Marry sedang menyambut tamu-tamu yang datang.

Sambil memanggang… kami asyik bercanda, kami membicarakan hal-hal yang lucu. Namun tiba-tiba saja ia berkata sesuatu, “Josh, sejak pertama kali melihatmu di mini market… aku sepertinya telah lama mengenalmu, sepertinya kita pernah saling mengenal. Kamu seperti seseorang yang telah ku kenal, tapi di sisi lain kamu juga terasa asing bagiku…” ia berkata tanpa melihat ke arahku, seolah-olah ia tidak berani menatap mataku. Matanya terus melihat ke arah tempat pemanggangan…

Aku hanya bisa diam membisu… pada saat ini aku tidak mampu berkata apa-apa. Jika jati diriku terbongkar, maka aku akan segera dibawa kembali ke Akhirat… artinya usahaku selama ini sia-sia…

“Waktu itu aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu…” setelah berkata seperti itu ia pergi membawa daging yang selesai dipanggang menuju ke meja makan.

Tak lama kemudian ia datang kembali setelah meletakkan daging-daging panggang itu di atas meja makan. Kami kembali melanjutkan pembicaraan kami sambil memanggang. “Josh… sebulan lagi, tepatnya sehari sebelum Valentine… pacarku akan kembali ke sini. Ia pergi dua tahun yang lalu ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah S2-nya… aku sangat mencintainya, aku sangat rindu padanya…”

“Iya… aku senang kamu sangat mencintai dia, di sana dia juga pasti sangat merindukanmu. Aku senang melihat sepasang kekasih yang saling mencintai seperti kalian berdua… mudah-mudahan kalian dapat hidup untuk selamanya.” Aku senang sekali mengetahui ia masih tetap mencintaiku seperti dulu.

Tak lama kemudian mama Marry datang menghampiri kami, ia berkata, “ayo kalian bergabung dengan tamu-tamu yang lain, jangan berduaan terus donk! Mentang-mentang masih muda maunya berduaan terus.”

Aku tertawa mendengar mamanya berkata seperti itu. Kemudian kami ikut bergabung berpesta dengan para tamu…

------ * * * ------

Sekarang bulan Februari, sebentar lagi aku dapat kembali menjadi diriku yang dulu. Aku dapat bersama dengan Marry lagi… namun… namun setelah melewati tanggal 14 Februari… aku tak tahu apa yang akan terjadi… apakah aku harus meninggalkan Marry untuk kedua kalinya…

“HEI…! Kamu melamun terus dari kemarin…!” tiba-tiba ia muncul lagi dan membuat aku terkejut.

“Ehh… iya, aku…aku tidak melamun kok.”

“Aku ke sini mau mencari coklat Valentine yang paling bagus…!” ia berkata dengan tersenyum.

“Kamu mau memberikan untuk pacarmu yang sebentar lagi akan pulang ya!?”

“Iya benar sekali…! Tapi aku kok tidak melihat ada coklat-coklat Valentine di sini…”

“Coklat Valentinenya belum masuk ke sini, kata boss ku coklatnya baru akan datang tiga hari sebelum Valentine.”

“Ohh… begitu…” ia berkata dengan nada kecewa.

“Tapi kalau kamu mau… aku bisa menemani kamu mencari coklat Valentine yang bagus. Aku tahu kok tempatnya.” Aku berusaha membuat ia senang… aku tidak ingin melihat ia bersedih.

“Benarkah…? Baiklah nanti sore setelah kamu selesai bekerja aku akan datang ke sini.” Ia berkata dengan gembira.

“Enggak usah, nanti aku saja yang datang ke rumah kamu.”

“Josh… terima kasih banyak ya kamu sudah banyak membantu aku… baiklah nanti sore aku tunggu ya…!” kemudian ia pergi dengan tersenyum, “bye…”

Setelah itu aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku… sore harinya aku datang ke rumahnya. Ini pertama kalinya aku pergi keluar berdua sebagai seorang Josh. Aku sangat senang sekali… sudah lama aku tidak pergi berdua dengannya.

“Kita mau beli coklat dimana?” ia bertanya padaku.

“Tenang saja, aku akan mengantarkanmu melihat coklat-coklat Valentine yang indah. Kamu bisa memilih coklat yang paling bagus untuk pacarmu nanti.”

Kami berdua naik taksi menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang paling indah, di sana di jual berbagai macam coklat Valentine.

Setelah sampai di sana aku menemani dia memilih coklat yang paling bagus untuk pacarnya, maksudku adalah untukku… ia terlihat bingung memilih coklat yang menurutnya bagus, sebab di sana ada puluhan ribuan coklat yang tersebar di lantai dasar mall tersebut.

Setelah berkeliling selama dua jam, akhirnya kami menemukan coklat yang unik dan menarik. Ia memutuskan untuk membeli coklat itu. Setelah itu kami pulang dengan senang, ia senang mendapatkan coklat yang paling bagus dan aku senang melihat ia senang…

Kini kami sedang berada di dalam taksi menuju ke perjalanan pulang, tiba-tiba ia berkata, “Josh, kalau kamu tidak ada urusan sekarang aku mau mengajakmu ke suatu tempat… mau ga?”

Aku terkejut ia berkata seperti itu, “aku tidak ada urusan kok, memangnya kamu mau mengajakku ke mana?”

“Aku mau mengajakmu ke pantai, aku ingin bercerita sesuatu kepadamu, apakah kamu mau?”

“i… iya aku mau.” Aku menjawab seperti orang kebingungan, kira-kira apa yang mau ia ceritakan kepadaku…

Tak lama kemudian kami sampai di tempat yang ia maksudkan… di sebuah pantai… dulu aku dan dia pernah datang berdua di sini… di sinilah aku berjanji akan kembali satu hari sebelum Valentine untuk bertemu kembali dengannya… entah kenapa sekarang ia tiba-tiba mengajakku ke sini, padahal sekarang aku hanyalah orang lain yang baru setahun mengenalnya…

Ia mengajakku duduk di sampingnya, duduk menghadap ke arah lautan. Saat ini sudah pukul 8 malam… entah apa yang mau ia bicarakan denganku…

“Josh…” tiba-tiba ia memanggilku… sepertinya ia sedang sedih…

“Ya… ada apa Marry…?”

“Josh… kamu akan bekerja di tempat itu sampai kapan?… untuk selamanya… atau sebentar lagi…?”

“Aku… sepertinya aku harus segera pergi beberapa hari lagi, aku harus pergi ke suatu tempat untuk melanjutkan kehidupanku…”

“Kamu mau ke mana nanti…?”

“Aku belum tahu ke mana aku akan pergi nanti… tapi sebelum aku pergi… aku mau titip pesan untuk kamu… Aku mau kamu selalu merasa bahagia di mana pun kamu berada, Aku mau kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dengan kekasihmu… dan… dan apa yang akan kamu lakukan seandainya pacarmu yang selama ini kamu tunggu ternyata sudah pergi untuk selama-lamanya?” entah kenapa tiba-tiba saja aku bertanya seperti ini… aku tahu ini akan membuat ia tersinggung, tapi aku hanya ingin mengetahui apa yang akan dia lakukan pada saat ia mengetahui bahwa aku sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat…

“Kenapa… kenapa kamu bertanya seperti itu? Kenapa kamu berbicara sembarangan?” ia terlihat begitu marah, padahal aku tidak bermaksud melukai perasaannya…

“Aku… aku hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi seseorang ketika ia mengetahui bahwa orang yang ia cintai telah pergi untuk selama-lamanya… sebab… sebab aku pernah mengalaminya dua tahun yang lalu… aku kehilangan gadis yang sangat kucintai, hatiku sangat tertekan… aku tak sanggup menerima kenyataan ini… seandainya ini mimpi, aku ingin cepat-cepat bangun dari tidurku.” Tanpa kusadari tiba-tiba aku berkata seperti itu… aku menyadari kalau sekarang air mataku hampir keluar.

Ia tidak berkata apa-apa, ia terdiam melihatku…

“Sudahlah… anggap saja tadi aku tidak mengatakan apa-apa… hmm… sebenarnya kamu mengajakku ke sini untuk bercerita apa?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan… aku tidak ingin ia menjadi sedih…

Dia terdiam beberapa saat, matanya hanya memandang ke arah laut yang gelap… “ini tempat yang aku kunjungi terakhir kali bersama pacarku sebelum ia pergi ke luar negeri…” kemudian ia menatapku, “di tempat ini ia berjanji akan kembali satu hari sebelum Valentine… berarti esok lusa ia akan kembali menemuiku… Josh, saat ia kembali akan kuperkenalkan ia kepadamu…”

“Marry, aku tidak tahu apakah aku masih di sini saat pacarmu kembali dari luar negeri… lagi pula kenapa kamu mau memperkenalkan aku dengannya?”

“Aku hanya ingin kamu mengenalnya… sebab aku rasa kamu banyak kemiripan dengannya… jadi… aku mau kamu berjanji untuk tetap di sini sampai tanggal 14 Februari… mau kan?”

“Maafkan aku… aku tidak bisa menuruti permintaanmu… mungkin dua hari lagi aku sudah tidak ada di sini lagi Marry…” aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa hal itu sangat tidak mungkin, sebab aku adalah pacarnya… begitu James muncul di dunia ini maka Josh sudah tidak ada lagi… Josh sudah lenyap untuk selamanya…

Tiba-tiba ia menarik lenganku ke arahnya, “Apa alasannya…? Jelaskan mengapa begitu? Jelaskan mengapa kau tidak bisa menunggu sampai pacarku pulang?” sepertinya ia memaksaku untuk menceritakan semuanya…

“Aku… aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu…! Pokoknya aku harus pergi ke suatu tempat…”

Marry terus memaksaku untuk tetap tinggal di sini, ia berkata, “kamu kan bisa menunda kepergian kamu sampai tanggal 13 Februari, apa salahnya menunda satu hari…?”

“Aku tidak bisa menunggu sampai hari itu… karena… karena…” saat ini aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa…

“Karena apa? Jelaskan karena apa…? Karena apa…? Karena kamu adalah James kan?”

------ * * * ------

0 Comments:

 

blogger templates 3 columns | Design by Jimmy Lobianto